SAY NO TO MINING IN NORTH MOLUCAS

SAY NO TO MINING IN NORTH MOLUCAS
WALHI MALUT Aksi Teatrikal Hari Anti Tambang
Tampilkan postingan dengan label Pulau-Pulau Kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pulau-Pulau Kecil. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Januari 2014

Warga Mado Belajar Jurnalisme Komunitas





TERNATE - WALHI Maluku Utara mengadakan FGD bertema Jurnalisme komunitas dan metadata dalam perspektif pemanasan global, Sabtu (14/12) di Kelurahan Mado, kecamatan Pulau Hiri. Diskusi yang dilaksanakan di rumah sekretaris Kelurahan Mado ini diikuti oleh 42 peserta yang dihadiri oleh siswa SMP dan SMA, Mahasiswa, Pemuda, orangtua, serta Staf Kelurahan Mado.

Menurut pendamping lapangan WALHI Malut, Fahrudin A. Buamona, bahwa diskusi ini dilaksanakan dengan tujuan agar masyarakat bisa memahami proses membuat berita, sekaligus bagaimana menciptakan media alternatif.

Selain memberikan pemahaman terkait bagaimana proses membuat berita, dalam diskusi tersebut peserta juga diberikan pemahaman tentang pemanasan global dan dampaknya terhadap masyarakat, khususnya di pulau-pulau kecil.

Diskusi ini mendapat apresiasi penuh dari seluruh peserta, terlihat dari antusias mereka mengikuti setiap proses diskusi sampai selesai. Bahkan mereka meminta agar kegiatan seperti ini sesering mungkin diadakan di kampung, agar masyarakat pun tidak ketinggalan informasi.

“kami akhirnya paham kenapa air laut menjadi lebih tinggi sekarang. Juga musim yang tidak menentu, yang berdampak pada menurunnya hasil tangkapan nelayan.” Ungkap Amran Ali, ketua LPM Kelurahan Mado.

Abrasi Tingkat Kritis di Galo – Galo





DARUBA - Tanggul pemecah ombak di Desa Galo – Galo, Morotai Selatan yang berada di areal pekuburan sebagiannya runtuh. Imbasnya, dinding tanah kuburan setinggi dua meter di tepi daratan ikut amblas.

Jamal Pesa, salah seorang pemuda kampung mengatakan, bahwa peristiwa ini sudah terjadi sekitar dua bulan yang lalu. “Sudah hampir dua bulan kejadiannya,” ujar Jamal.

Saat di lokasi (30/11), lobang menganga mengakibatkan sebagian jasad yang telah menjadi rangka, mulai dari kepala hingga tulang iga tampak berada di luar.

“Peristiwa ini bukan kali pertama terjadi. Mulanya tepi daratan pada areal kuburan tersebut masih memanjang lima meter kedepan. Namun karena sering terkikis oleh ombak air laut akhirnya jadi seperti ini,” ungkap Jais, Ketua Komunitas Pencinta Pulau.

“Pernah lebih ekstrim dari yang ini. Ombak naik sampai permukaan kuburan, hingga beberapa jasad terangkat ke permukaan. Pagi harinya, masyarakat menemukan banyak tulang manusia berserakan.” Ungkapnya lagi.

Kepala Desa Galo Galo, Fuad Gafur saat dikonfirmasi mengatakan belum bisa melakukan perbaikan tanggul karena keterbatasan anggaran desa.

“Ya, kami akan upayakan bersama warga untuk memperbaiki kuburan yang rusak,” ucapnya. “Untuk tanggul, kami baru ajukan proposal untuk perbaikannya ke dinas PU. Ini masih menanti jawaban mereka,” ujarnya lagi.

Jika hal ini tidak segera ditangani oleh Pemerintah Morotai, maka bisa jadi areal pekuburan tua di Desa Galo-Galo akan lenyap di kikis abrasi. Butuh kebijakan dan tindakan segera oleh seluruh pihak yang berkompeten untuk mengatasi hal tersebut.

Jumat, 03 Januari 2014

Puing Reruntuhan Benteng Nassau di Pulau Moti




TERNATE - Kaki-kaki yang sibuk berlalu lalang, dan teriakan jajanan kaum Ibu, ramai berlangsung di atas jembatan kayu Pelabuhan Moti Kota. Hampir tiap pagi, suasana ini kan didapati, kala transportasi laut berupa speed boat, atau motor kayu merapat.

Di sisi utara, tak jauh dari keramaian itu, puing-puing beton terserak di tepian pantai, bahkan sebagiannya sudah terendam laut. Bisu dalam hempasan ombak, namun menyimpan sejarah masa silam negeri ini, yang penuh penindasan.

“Dulunya, puing – puing ini merupakan tembok kokoh, benteng yang berdiri tegar di kaki Gunung Tuanane. Kami sering menyebutnya SEPERA, singkatan dari semangat perjuangan rakyat. Inilah banteng Nassau kedua, setelah yang ada di Pulau Banda – Maluku,” tutur Nahrawi Jalal, seorang pemuda Pulau Moti sembari duduk di atas puing yang tersisa.

Menurut catatan sejarah, pertengahan abad ke-17, Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) mengalami kegalauan akibat terjadi kelebihan produksi cengkeh, yang menyebabkan harganya menjadi turun di pasar Eropa. VOC kemudian menerapkan kebijakan extirpatie, yakni pemusnahan pohon pala dan cengkeh milik rakyat Maluku Utara. Untuk mengawasi pelaksanaan kebijakan tersebut, maka dilakukanlah pelayaran bersama antara VOC dan Kesultanan Ternate, yang kemudian dikenal dengan nama hongitotchen.

Kebijakan extirpatie yang ditandatangani oleh Sultan Mandar Syah di dalam Benteng Orange pada 31 januari 1652, menyebabkan dua pulau penghasil cengkeh terbesar di Maluku Utara zaman itu, yakni Pulau Makian dan Pulau Moti terkena imbasnya. Cengkeh dan pala, yang menjadi tanaman utama warga, dibabat habis hingga ke akar-akarnya.

Kini, artefak sejarah yang menjadi saksi bisu penggalan kisah penindasan kolonial masa silam itu, tak lagi kokoh berdiri. Terbiar hancur, dikikis abrasi dan usang dimakan waktu. Puing-puing itu hanya disapa ombak, dan riuh rendah suasana pagi di atas jembatan kayu, dermaga Pulau Moti.

Di Pulau Hiri, Pak Lurah Mado Bercita-cita Membangun Perpustakaan




TERNATE - Pulau Hiri terletak di arah utara Pulau Ternate, tak terlampau jauh jaraknya. Waktu tempuh kurang lebih 20 menit, jika menggunakan motor kayu – sebutan untuk alat transportasi yang biasa digunakan masyarakat setempat.

Meski jaraknya cukup dekat dengan Pulau Ternate yang menjadi sentra aktivitas ekonomi di Maluku Utara, kehidupannya masih alami, belum terlalu banyak pengaruh dinamika kota di pulau ini. Warganya ramah, layaknya kehidupan masyarakat pesisir kebanyakan yang penuh persahabatan.

Terdapat enam kelurahan di Pulau Hiri, yang masuk Kecamatan Pulau Hiri, wilayah administrasi Kota Ternate. Salah satunya adalah Kelurahan Mado, yang menjadi lokasi aktivitas WALHI Maluku Utara menjalankan program belajar bersama komunitas.

Lurahnya bernama Abdul Kadir Rakib, biasa disapa Pak Lurah. Lelaki 40-an ini, sebelum menjadi pegawai negeri, sempat melakoni juragan kapal laut di Pulau Sanana, juga pernah menjadi pedagang pakaian di Papua.

“Tahun 1986, saya tamat SMA langsung ke Papua berdagang pakaian di Fak-Fak. Setelah itu lanjut merantau ke Ambon, dan akhirnya menjadi juragan kapal di Pulau Sanana. Nanti pertengahan tahun 1990 baru masuk PNS, dan tahun 2010 dipercayakan menjadi Lurah di Mado ini,” kisahnya.

Selain menjadi lurah, Ia juga membuka warung makan, yang letaknya berhadapan dengan terminal dermaga Pulau Hiri. Selain makanan, terdapat juga barang dagangan lain di warung tersebut yang dijualnya. Warung tersebut dipercayakan kepada sepupunya untuk mengelola.

“Yah, minimal warga tidak lagi mesti ke Pulau Ternate untuk membeli kebutuhan rumah tangga,” ujarnya.

Suatu sore, di awal oktober 2013, Pak Lurah menyampaikan cita-citanya terkait pembangunan sumberdaya manusia di Pulau Hiri. Ia ingin membangun perpustakaan, agar warga di Pulau Hiri bisa bertambah wawasan dan pengetahuannya.

“Saya akan bangun dua bangunan di samping kantor lurah. Satu bangunan akan saya sekat dan bikin ruang perpustakaan. Kalau sudah jadi, akan saya buat program wajib baca. Setiap minggu, masyarakat wajib membaca buku satu kali. Saat ini kami sudah punya 500 judul buku, masing-masing dua eksemplar, bantuan dari pemerintah,” ungkapnya.

Di tengah krisis air bersih di Pulau Hiri yang tak pernah tuntas penyelesaiannya, ada spirit membangun kecerdasan dari seorang lurah di pulau kecil.*

Kaum Muda Pulau Moti Tertarik Belajar Jurnalisme Komunitas




TERNATE - Jurnalisme Komunitas dan Metadata (JKM), ternyata sangat direspon oleh kaum muda di Pulau Moti, salah satu wilayah kepulauan yang masuk dalam administrasi Kota Ternate. Pulau ini dapat dijangkau menggunakan speed boat, dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam tiga puluh menit dari Ternate.

Saat itu sore menjelang magrib, jumat (28/11), ketika keramaian di lapangan bola kaki telah usai, beberapa kaum muda terlihat bergegas menuju rumah mereka. Menurut Ramli yang adalah Ketua Pemuda di Kelurahan Moti Kota, para pemuda itu bergegas, karena mereka telah menyepakati, malam nanti akan mengikuti diskusi focus tentang JKM, yang akan difasilitasi oleh perwakilan dari WALHI Maluku Utara.

“Pemuda di Kelurahan ini telah bersepakat untuk lebih focus belajar menulis berita kampung. Selain itu, teman dari WALHI Maluku Utara juga akan menyampaikan tentang pemanasan global dan perubahan iklim. Bagi kami yang hidup di wilayah pulau, pengetahuan itu sangat penting diketahui,” tutur Ramli.

Proses belajar bersama dimulai pukul 20.00 WIT, di kediaman Ramli. Ada 22 orang pemuda yang terlibat. Rasman yang mewakili Walhi Maluku Utara, terlihat antusias memaparkan dasar-dasar penulisan berita, yang diselingi dengan paparan contoh dampak pemanasan global.

Di akhir sesi diskusi, beberapa peserta meminta Walhi Maluku Utara untuk tetap bisa memfasilitasi forum belajar bersama tentang JKM dan Pemanasan Global. Mereka juga menyepakati, tiap hari sabtu minggu, akan meluangkan waktu untuk terlibat dalam proses diskusi bersama.

Rasman dari Walhi Maluku Utara menyanggupi akan terus mengawal proses belajar bersama kaum muda di Pulau Moti.

“Iya, selain FGD seperti malam ini, sebelumnya juga kami telah melakukan pemutaran film tentang pemanasan global dan perubahan iklim. Menurut kami, sudah menjadi tugas bersama untuk terus menyampaikan dampak perubahan iklim ke seluruh masyarakat Maluku Utara, karena wilayah kita ini adalah kepulauan. Dibarengi dengan pelatihan menulis dan metadata, tentunya agar warga di Pulau Moti, bisa mengabarkan berita kampungnya sendiri,” terang Rasman.*

JURNALISME KOMUNITAS DAN PEMANASAN GLOBAL MENGGEMA DI RUMAH KEPALA DESA KOLORAI




DARUBA - Ditengah kesibukan berinteraksi dengan laut, warga Desa Kolorai, Kecamatan Morotai Selatan, turut pula menyempatkan waktu untuk tukar gagasan dalam Diskusi Kelompok Fokus yang digelar Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Maluku Utara pada Selasa (26/11) kemarin.

Kegiatan dengan tema “Jurnalisme Komunitas dan Metadata Dalam Perspektif Pemanasan Global di Maluku Utara” itu dilangsungkan di kediaman kepala desa dengan dihadiri oleh sepuluh peserta.

Di dalam forum terbangun dialog cukup alot terkait dengan wacana perubahan iklim. Selain itu penjelasan kasuistik tentang gejala alam yang dijadikan sebagai indikator proses pemanasan global tengah mengada pun turut disentil.

Satu peserta kemudian meresahkan nasib kampung Kolorai kedepan yang menurutnya tengah terancam oleh intensitas ombak air laut yang senantiasa mengikis tepi daratan bagian barat pulau. Dari situ, tujuan jurnalisme komunitas terjelaskan kemudian sebagai wadah publikasi kampung yang berangkat dari inisiatif lokal.

Kepala Desa Kolorai, Sardjan Ismail, yang sedari awal memberikan dukungan terhadap kegiatan ini berharap beberapa peserta dapat dilatih khusus untuk menulis.

“Membuat berita tentang desa termasuk mengabarkan spot-spot wisata alam di sini. Mempromosikan Kolorai sebagai desa wisata.” Canda pak Kades periode 2008-2014 ini.

NELAYAN KOLORAI BELAJAR PEMANFAATAN RUMAH KACA





DARUBA - Pihak Universitas Padjadjaran yang bekerjasama dengan Kementerian Pembangunan Desa Tertinggal (KPDT) dan Universitas Pattimura (UNPATI), melakukan sosialisasi sekaligus Pelatihan Pemanfaatan Rumah Kaca di Desa Kolorai, Kecamatan Morotai Selatan, Maluku Utara.

Pelatihan yang digelar di Gedung Serba Guna Desa kolorai pada Sabtu (23/11) itu, dipandu langsung dua pelatih dari Universitas Padjadjaran dan satu pelatih dari UNPATI. Didampingi Kepala Desa Kolorai beserta Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Morotai, yang sekaligus mengawali penyampaian berupa harapan kepada 20 peserta dari warga setempat.

Dalam pelatihan ini, ketiga pelatih menjelaskan tata cara pengelolaan ikan garam yang diorientasikan sebagai komoditas. Dimana peserta digembleng untuk melahirkan produk melalui proses pembuatan yang higienis. Dimulai dari tahap penjemuran dan pengeringan menggunakan rumah kaca hingga teknik membuat kemasan.

“Program pelatihan dan penerapan teknologi tepat guna ini, bertujuan untuk memperkenalkan rumah kaca sebagai alat pengering ikan garam yang efisien. Agar ikan garam yang dihasilkan lebih berkualitas serta laku di pasaran, maka disini kita akan mulai dari pengelolaan dan pengemasan,” Jelas salah satu pelatih.

Menurut ketiga pelatih, dalam proses pengeringan ikan garam yang selama ini dijalankan oleh warga setempat tidak efisien dan mutunya berkuarang. Ketika pengambilan sample untuk uji laboratorium, ditemukan masih terdapat bakteri yang diduga disebabkan oleh pengaruh cuaca saat penjemuran, dimana hasilnya tidak kering secara menyeluruh.

Selain itu proses pembuatan yang masih tergolong konvensional, tanpa terlindungi saat penjemuran merupakan faktor lainnya. Maka penggunaan rumah kaca yang masih berupa setelan konstruksi, telah didatangkan pada jumat (22/11) dan diharapkan dapat menjadi alat bantu penjemuran atau pengeringan.

Selanjutnya peserta yang terdiri dari kaum ibu dan bapak-bapak ini, diperkenalkan tentang contoh dan model kemasan produk. Disebutkan bahwa selain berfungsi sebagai wadah, juga dapat menjadi instrumen promosi.

“Terdapat tiga jenis kemasan. Kemasan primer yang langsung kontak dengan produknya, kemasan sekunder tidak langsung kontak dengan produk dan kemasan tersier yang merupakan gabungan dari dua jenis kemasan tadi. Prinsipnya adalah melindungi barang yang dijual dan menjual barang yang dilindungi,” jelas salah satu pelatih.

Sardjan Ismail, Kepala Desa Kolorai mengatakan bahwa, kegiatan ini sudah kali kedua dilakukan dari program yang sama. Namun pelatihan saat ini akan difokuskan pada satu kelompok nelayan saja, yang terdiri dari perempuan dan laki-laki.

“Selain dilatih menerapkan pengelolaan ikan dengan metode ini, ibu-ibu juga nantinya diajarkan teknik membuat abon dan bakso ikan,” tutup Pala, sebutan warga untuk Kepala Desa.

JURNALIS WARGA HADIR DI PULAU KOLORAI



TERNATE - Sebagai upaya untuk melahirkan jurnalis warga ditingkatan komunitas kampung, WALHI Maluku Utara didukung oleh The Samdhana Institute, akan melaksanakan Diskusi Kelompok Fokus dengan tema “Jurnalisme Komunitas dan Metadata dalam perspektif Pemanasan Global di Maluku Utara” di Desa Kolorai Kabupaten Pulau Morotai.

Nursyahid Musa, staf WALHI Maluku Utara yang ditugaskan menjalankan program ini di Desa Kolorai menyampaikan bahwa, kegiatan ini akan dilaksanakan pada tanggal 24 November 2013, dengan jumlah peserta 10 orang. “Besok (hari ini, red) tinggal mempersiapkan teknis dan pemastian peserta kegiatan, targetnya peserta berasal dari berbagai latar belakang, diantaranya guru, staf desa, nelayan, pelajar serta perempuan,” ungkapnya.

Kegiatan yang juga didukung penuh oleh pemerintah desa setempat ini, akan menghadirkan Fahrudin Abdullah, Biro Malut Post Morotai sebagai narasumber. “Setiba di Daruba kamis kemarin, saya langsung berkoordinasi dengan dia (Fahrudin, red). Jadi untuk narasumber sudah final,” tambah Nursyahid.

Menurutnya, keluaran dari kegiatan ini, diharapkan peserta dapat mengikuti tahapan program selanjutnya, guna melahirkan jurnalis komunitas di Desa Kolorai yang dapat meneruskan informasi dan berita tentang apa saja yang berkaitan dengan desa mereka ke komunitasnya, juga ke ruang publik yang lebih besar.

Banyak hal-hal unik yang bisa diberitakan dari Desa ini, selain keindahan pulau dan pantai, banyak cerita juga bisa diberitakan. Funaemilik juragan ikan misalnya, menjadi transportasi alternatif bagi warga, bahkan hampir semua warga desa yang beraktifitas di ibukota kabupaten lebih memilih menggunakan funae ketimbang speadboat karena biayanya jauh lebih murah, bahkan lebih sering gratis.

Nursyahid juga menambahkan, saat ini Desa Kolorai sedang menjalankan program desa terkait bantuan untuk pelatihan budidaya dan pengelolaan ikan serta rumput laut. “Jika jurnalis komunitas bisa lahir disini, maka program desa semacam ini dapat dipublish keluar maupun kedalam kampung sendiri, sebagai informasi dan motivasi untuk warga,” tutupnya.



Nelayan di Pulau-Pulau Kecil Morotai “Tersudut” di Tepi Pantai



DARUBA - Meski krisis lahan darat dimana sisa areal dari pemukiman penduduknya tak bisa disebut hutan, karena seluruh kawasannya merupakan ekosistem pantai, namun tidak demikian dengan ruang kelola lautnya.

Bagaikan beranda kampung, sudah lazim warga Desa Kolorai menjadikan tepian pantai ini untuk bersantai dan beraktifitas. Pesisir timur “Pulau Kecil” Kolorai merupakan sentral kesibukan nelayan berinteraksi dengan alat alat produksi.

Letaknya sekira tujuh meter dari bibir pantai dan dibatasi sweering yang tingginya dari sekira 2 meter hingga merata dengan permukaan pasir. Di satu bagian tanggul ini terukir tanda jasa: “PNPM PARIWISATA….”

Areal ini menjadi tempat pendaratan sekaligus menambat perahu sehabis melaut. Ada puluhan perahu “Body” fiberglass dan katinting yang parkir di atas pasir putih. Sementara “perahu penampung” dan fonae menepi di bibir pantai.

Terdapat pula halaman khusus untuk pembuatan perahu yang dikerjakan oleh tiga tukang bersaudara kandung. Dimana pengetahuan tekniknya merupakan warisan dari sang ayah. Masing-masing dari mereka mengerjakan tiap-tiap pesanan.

Kecuali fiberglass yang merupakan bantuan Pemerintah daerah (jarang dimanfaatkan dan sebagian telah sekarat), rata-rata perahu ukuran besar, sedang, dan kecil hasil buah tangan ketiganya. Bahan didatangkan dari Daruba yang mesti disediakan langsung oleh pemesan.

Di sini sudah mentradisi suatu kaidah moral yang telah mengakar dalam laku warga. Meski tidak dioperasikan, mesin dan minyak di atas perahu, khususnya fonae tidak diamankan oleh pemiliknya. Semua alat nantinya dikeluarkan ketika perahu hendak dibersihkan.

Menurut Kepala Desa, Sardjan Ismail, masyarakat nelayan disini sudah “hatam” soal kepercayaan sosial yang telah terjalin secara turun temurun.

Adapun laut teduh di depan sana seakan menjadi pekarangannya. Dimana variasi warna laut pantainya hijau-kebiruan. Mungkin itu efek yang dihasilkan dari topografi dasar laut yang landai dan curam. Disitu terapung dua bagan serta delapan keramba jaring apung budidaya ikan kerapu dan kakap.

Untuk jenis ikan tersebut biasa diolah menjadi “ikan garam spesial”. Ada tiga jenis rasa. Salah satunya “ikan garam rasa bawang”. Produknya tidak dilempar di pasar.

“Jika ingin membeli harus datang di Kolorai dan dipesan tiga hari sebelumnya.” Ujar Kepala Desa yang akrab disapa “Om Pala”. “Hal tersebut merupakan bagian dari strategi pemasaran untuk menciptakan pasar di dalam kampung.” Tambahnya.

Berdasarkan laporan Bulanan Desa Kolorai, Maret, 2012, sebanyak 202 orang bekerja sebagai nelayan dari 506 jiwa. Semuanya terbagi dalam rutinitas kerja harian yang dinamis.

Untuk bafonae (mancing di laut lepas) dan basoma (menjaring), awaknya sekira 7-10 orang yang berpengalaman.

Rata-rata mereka dibekali pengetahuan dan teknik: penangkapan ikan untuk umpan; pemilihan umpan yang tepat; mengetahui waktu yang tepat; menaksir posisi ikan yang menjadi sasaran tangkap di laut lepas, membaca musim agar tidak melaut serta waktu melimpahnya ikan; menentukan jenis yang tidak boleh ditangkap.

Dari keterangan salah satu warga dan Kades Kolorai, dalam mengejar target di laut lepas, mereka pernah menjangkau perairan Morotai bagian Selatan Barat dimana terdapat aktifitas pertemuan arus.

“Tai arus!” Demikian istilah para nelayan di pulau kecil ini. “Banyak batang-batang pohon yang ditumbuhi rumput-rumput, terkumpul menjadi satu seperti membentuk daratan. Banyak ikan dibawahnya. Jangan disangka rap terus turun. “Gorango bintang” (hiu) juga banyak. Tapi di situ arusnya kuat.” Jelas kedua mantan awak tersebut yang telah lama pensiun.

Selain bagan yang merupakan metode penangkapan dari suku Sangir dengan target ikan teri, ada pula model mancing “ikan dasar” dengan perahu yang didorong mesin katinting dan “penggayung.”

Biasanya dikerjakan nelayan yang memiliki sarana tersebut. Untuk yang terakhir ini, hasil tangkapannya disebut “ikan makan”. Karena biasa sekedar mengisi kebutuhan konsumsi rumah tangga. Namun jika melebihi standar kebutuhan, sebagian di jual ke juragan perahu penampung.

Lalu pengusaha penadah hasil tangkapan tersebut akan menimbang-nimbang harga ikan yang disodorkan dengan mengacu pada jumlah dan jenis serta permintaan pembeli dan pasar di Daruba.

Setiap saat ada saja ikan yang ditenteng kecuali ketika cuaca tidak mendukung dan laut berombak. Karena pada saat itu sebagian besar nelayan enggan melaut.

Para bocah terbiasa memancing di ujung jembatan sandar yang menjorok ke laut. Hasil tangkapan yang kecil akan dijadikan umpan untuk ikan besar. Terkadang ikan hasil mancing saat ditenteng mereka sampai ke rumah masih megap-megap.

“jika masih hidup, besok mancing akan dapat ikan yang sama.” Kata Ibu Kades memaknai hal tersebut yang memang sudah membentuk kepercayaan nelayan pada umumnya.

Berbeda dengan kehidupan nelayan di desa tetangganya di seberang pulau, Galo Galo Besar. Letaknya lebih jauh di Selatan Morotai dari Ibu Kota. Sebagian besar warga Kolorai juga berasal dari kampung ini.

Perbedaan mendasarnya terletak pada jumlah perahu dan intensitas “mengail” di laut lepas. Hanya sekira lima fiberglass yang itupun sebagian telah dimodifikasi menjadi perahu angkut penumpang.

Nelayan di pulau ini cenderung menggunakan katinting dan perahu “body” ukuran sedang ketika melaut. Namun untuk mencari “ikan makan” cukup dengan basoma dan juga bajubi (memanah ikan dengan menyelam) didekat bibir pantai. Salah satu kiatnya, hasil tangkapan akan dilempar ke pantai dan awak yang lainnya memungut.

Adapun Galo Galo Kecil—pulau disebelah yang tak dimukim. Jika air laut surut akan terbentuk jalan yang dapat dilintasi dengan berjalan kaki dari Galo Galo Besar. Saat itu sebagian warga akan memungut kerang yang terkuak.

Terdapat pula di sini usaha keramba ikan yang dikhususkan untuk pengunjung. Jika anda seorang wisatawan yang ingin memakan ikan bakar, penjaganya akan mempersilahkan anda memilih porsi yang diinginkan.